Skip to content

Article: Si Tanduk

Si Tanduk

Sembari ditemani senandung suara Louis Armstrong, aku melewati 2025
dengan menggambar sampai pukul dua pagi di tahun baru. 

Melalui gambar, aku menuangkan imajinasi dan doa ke dalam sebuah mantra visual 
karena rasa ini adalah setulusnya pemberian dari Sang Maha Pencipta semesta.

Aku bersyukur bisa menemukan rasa ini dan
membungakan kasih yang berlimpah ke segala penjuru.

Aku bersyukur bisa menumbuhkan keberanian
untuk percaya kepada diriku yang terlalu lama aku lupakan.

Aku bersyukur bisa menatap tajam kepada keheningan
sehingga sunyi menjadi nyala yang memenuhi waktu.

Dan ini Si Tanduk yang akan berlari menembus bara dan debu
meraih mimpi yang selalu menjadi hak lahirnya.

Selamat Tahun Baru,
Melissa

Leave a comment

Situs ini dilindungi oleh hCaptcha dan berlaku Kebijakan Privasi serta Ketentuan Layanan hCaptcha.

All comments are moderated before being published.

Read more

Liar, Tapi Lembut.

Liar, Tapi Lembut.

Terkadang urutannya terbalik. Ini semangat hidup yang aku simpulkan tentang ibuku yang sering dipanggil dengan nama akrab “madet” oleh tim Tulisan. Sikap Madet dalam merayakan hidup, yang sangat sp...

Read more
Pos Udara

Pos Udara

Sekitar empat puluh tahun lalu, masih belum ada HP [Hand Phone] tapi ada “Pos Udara”, sebuah budaya koresponden yang membuat banyak orang ketagihan untuk saling memberi kabar melalui sepucuk surat....

Read more