
Sekitar empat puluh tahun lalu, masih belum ada HP [Hand Phone] tapi ada “Pos Udara”, sebuah budaya koresponden yang membuat banyak orang ketagihan untuk saling memberi kabar melalui sepucuk surat. Surat-surat ini diatur oleh kantor Pos setempat yang berkoordinasi dengan kantor-kantor Pos lain di seluruh dunia. Di area tempat tinggalku, setiap surat diantar secara pribadi oleh seorang tukang Pos bersepeda yang sama. Si Pak Pos sangat bertanggung jawab dalam tugas ini. Karena hampir setiap hari bertemu Pak Pos, aku selalu menulis “Terima kasih, Pak Pos yang Baik” di sisi belakang amplop surat untuk memberi semangat atas etos kerjanya.
Pos Udara adalah medium seni yang aku kenal pertama kali. Budaya ini mendidik aku untuk menyusun kata demi menabur kasih secara jarak jauh dan dengan penuh kesabaran. Selang waktu dalam menunggu jawaban dari lawan pena kita bisa memakan dua sampai empat minggu. Dulu aku berusaha menulis surat ke teman pena yang berbeda-beda setiap hari, supaya aku mendapat balasan surat setiap hari dari berbagai teman. Aku selalu ingin cerita tentang apa yang aku temukan di keseharianku dan bagaimana hal yang paling sederhana bisa menggugah rasa.
Selain kabar yang diantar, banyak aspek fisiologi yang berharga dalam sepucuk surat. Dari mulai perangko yang dipilih, tulisan tangan, cara melipat kertas, cap “Par Avion”, lampiran gambar, segel pribadi, dan aroma yang dibawa dari tempat asal surat tersebut. Aku sangat produktif dalam membuat surat untuk semua teman-temanku. Banyak suratku yang bergambar tersebar. Dulu, cita-citaku adalah menjadi penulis surat cinta profesional karena suratku sempat membantu teman mendapat jodoh sampai ke pelaminan. Kemudian aku lupa sama mimpi ini, karena tertelan dengan kesibukan lain. Sekarang si Pak Pos sudah pensiun dan kita semua punya HP. Namanya juga idup.
Tapi… Terima kasih untukmu, hari ini mimpi ini terwujudkan melalui Tulisan. Setiap karya merupakan sepucuk surat untuk menyampaikan kasih dan rasa. Surat cinta yang dibuat di Jawa untuk dunia.
Cium dan Peluk,
Melissa